Akhir-akhir ini, aku sering
merasakan ada sesuatu bergerak didalam sini. Disini, disalah satu bagian
tubuhku. Kadang-kadang aku tiba-tiba terbatuk-batuk, seperti lupa bagaimana
cara menarik nafas agar tak bersamaan dengan waktu menelan. Geliat ini sama
seperti yang dahulu hadir, ketika akhirnya pasukan berpakaian putih
mengelilingiku dimeja kerjanya. Selama ini aku berusaha menjaganya dan memberi
perhatian lebih padanya, bahkan menghabiskan sebagian besar penghasilanku
untuknya, namun jika ternyata ada geliat kehidupan yang tak kuharapkan hadirnya
bertumbuh disana, ya apa boleh buat. Yang penting aku sudah berusaha. Aku akan
menjalani hidup ini dengan iklas dan stay
calm, sambil berharap bahwa kehendak Gusti-lah yang terjadi. Manusia hanya
berencana dan berusaha namun pada akhirnya Gusti Pangeran yang menentukan.
Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah Nama Tuhan.
Genap setahun aku menjalani hidup ini, di dunia yang berbeda dengan yang sebelumnya. Jika harus menyimpulkan dengan satu kata aku mengalami masa setahun ini dengan masa galau tingkat tinggi. Kegalauan ini terutama berkaitan dengan pengalaman perjalanan hati di dua periode. Periode pertama dan kedua sama-sama mengenaskan. Periode pertama ceritanya begini. Kusadari bahwa ada rasa cinta pada seseorang. Jiwa dan raga, seluruhnya terarah padanya. Namun ternyata aku hanya berbicara pada telinga yang tertutup, hati yang beku dan bisu. Aku berteriak pada batu karang. Pintu yang kuketuk ngga ada penghuninya, namun hatiku masih bilang “ia ada dirumah, ia hanya belum dengar suaraku” namun semakin keras memanggil, semakin kuat pintu itu terkunci. Suaraku akhirnya parau dan aku kehabisan tenaga, lelah jiwa dan raga. Seperti anak-anak, yang memanggil-manggil mamanya, namun tak didengar, aku sedih, marah dan berontak. Semua kuanggap sampah dan tak berarti. Tak ada harapan, ...
Komentar
Posting Komentar