30 November 2013, kuawali sebuah perjalanan
baru. Ada rasa bahagia, karena kumerasa seperti burung yang akhirnya terbang
mengangkasa, lepas dari sangkar emas dengan ikatan belenggu yang mencekik leher.
Ada sebuah harapan yang kian bersemi mekar dalam jiwa. Sejujurnya kusadari,
bahwa semua yang ada dihadapanku saat ini sebenarnya tak seperti yang kuharapkan,
namun kucoba membuka hati pada realitas yang ada didepan mata. Hidup itu memang
tak harus sesuai dengan apa yang kita harapkan. Setidaknya demikian pengalaman
mengajariku. Kadang idealism itu penting, sebagai alasan dan patokan untuk
berjuang. Namun ada kalanya kita harus membuat evaluasi, merelakan tuk melepas
idealism, membuka hati dan mata jiwa untuk anugrah (grace) lain yang Gusti
Allah sediakan. Mungkin itu yang dikehendaki oleh Sang Gusti Pangeran. Yang
perlu kita lakukan hanya memohon bimbingan Roh-Nya “ajarlah hatiku Ya Gusti,
tuk memahami jalan-jalan-Mu, agar kudapat berjalan, dijalan yang benar. Amen”
Genap setahun aku menjalani hidup ini, di dunia yang berbeda dengan yang sebelumnya. Jika harus menyimpulkan dengan satu kata aku mengalami masa setahun ini dengan masa galau tingkat tinggi. Kegalauan ini terutama berkaitan dengan pengalaman perjalanan hati di dua periode. Periode pertama dan kedua sama-sama mengenaskan. Periode pertama ceritanya begini. Kusadari bahwa ada rasa cinta pada seseorang. Jiwa dan raga, seluruhnya terarah padanya. Namun ternyata aku hanya berbicara pada telinga yang tertutup, hati yang beku dan bisu. Aku berteriak pada batu karang. Pintu yang kuketuk ngga ada penghuninya, namun hatiku masih bilang “ia ada dirumah, ia hanya belum dengar suaraku” namun semakin keras memanggil, semakin kuat pintu itu terkunci. Suaraku akhirnya parau dan aku kehabisan tenaga, lelah jiwa dan raga. Seperti anak-anak, yang memanggil-manggil mamanya, namun tak didengar, aku sedih, marah dan berontak. Semua kuanggap sampah dan tak berarti. Tak ada harapan, ...
Komentar
Posting Komentar