Langsung ke konten utama

Bintang Kecil dilangit yg biru pekat

Terkadang menengadah keatas dimalam hari dalam suatu perjalanan panjang yang sangat berguna.
Hanya ada satu bintang yg dijadikan patokan dari sekumpulan bintang, tujuannya adalah untuk mengetahui arah kemana lagi harus melangkah.
Mungkin satu bintang itu bintang yg redup atau terlalu kecil, tapi satu bintang itulah patokan terhadap proses perjalanan panjang ini.
Mensyukuri-Nya adalah keindahan mensyukuri terhadap bintang redup dan terlalu kecil itu.
Paling tidak dia adalah bintang yg bercahaya dipekatnya lagit biru.

Lupa adalah sifat alamiah yg sudah di-kode-kan dari sananya.
Olehkarena itu diam sejenak ketika agak lelah kemudian memandang langit ada gunanya.
Tak perduli seberapa sulit perjalanan ini ditempuh, seberapa keras perjalanan ini ditempuh,
ketika memandang nya dan menyaksikan kebesaran-Nya maka ada lagi kekuatan untuk meneruskan perjalanan ini dengan mantap.

Bintang ...menatapmu adalah anugerah ,
melihat fakta bisu akan tanda-tanda kebesaran-Nya
menarik jika terus berjalan dengan berkeyakinan pada suatu tujuan,
berpatok pada bintang kecil dilangit yg biru pekat, sampai jatah umur didunia habis.

Bintang kecil....dilangit yang pekat....
terima kasih telah menjadi SAHABAT-ku
menjadi Kitab Suci
tempat aku membaca Kebesaran dan karya Sang Maestro Agung, Jesus Christ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan setahun, tahun lalu- hingga tanggal ini tahun ini

     Genap setahun aku menjalani hidup ini, di dunia yang berbeda dengan yang sebelumnya. Jika harus menyimpulkan dengan satu kata aku mengalami masa setahun ini dengan masa galau tingkat tinggi. Kegalauan ini terutama berkaitan dengan pengalaman perjalanan hati di dua periode. Periode pertama dan kedua sama-sama mengenaskan. Periode pertama ceritanya begini. Kusadari bahwa ada rasa cinta pada seseorang. Jiwa dan raga, seluruhnya terarah padanya. Namun ternyata aku hanya berbicara pada telinga yang tertutup, hati yang beku dan bisu. Aku berteriak pada batu karang. Pintu yang kuketuk ngga ada penghuninya, namun hatiku masih bilang “ia ada dirumah, ia hanya belum dengar suaraku” namun semakin keras memanggil, semakin kuat pintu itu terkunci. Suaraku akhirnya parau dan aku kehabisan tenaga, lelah jiwa dan raga. Seperti anak-anak, yang memanggil-manggil mamanya, namun tak didengar, aku sedih, marah dan berontak. Semua kuanggap sampah dan tak berarti. Tak ada harapan, ...

Perjalanan II

29 Juni 2014. Karna baru bisa tidur setelah subuh, maka hari ini Icha bangun siang. Waktu telah menunjukkan pukul 09:30 WIB, saat Icha terjaga dari tidurnya. Mungkin jika telephone selulernya tak berbunyi ia masih terlelap dalam tidurnya. Untung hari ini adalah hari libur jadi bangun siang tak jadi soal. Setelah menyegarkan diri dengan mandi dan minum susu segelas, Icha berniat hendak meditasi. Diambilnya sikap duduk yang enak dan mulai menjelajah di-alam kesadaran yang dalam (meditasi). Ketika nafas telah tenang, mata terpejam, dipersilahkannya sang Khalik berbicara. Namun ia terperanjat ketika peristiwa yang membangunkannya dari tidur tadi malam, ternyata hadir kembali dengan nyata dalam peziarahannya siang ini. Setelah ditanyakannya pada ruang batin, ia dibawa kembali pada rasa takutnya pada peristiwa mencekam dihari sebelumnya. Dan……… lalu gelap. Perlahan Icha membuka mata, diakhirinya meditasi siang ini. Ia mulai memasak dan bergegas hendak ke gereja.   Sekem...

Pejalanan III

1 Juli 2014 Semesta.. aku ingin bercerita tentang perjalanan hari ini. Tadi malam aku bermimpi lagi. Dalam mimpi itu ada adegan yang temanya “mau kondangan”. Ada mama, adekku (mama Togi), ka Puninta dan beberapa keluarga dekat lainnya. Kami semua sedang berkemas, dandan, mau pergi kondangan. Bajunya warna dominan hijau, warna yang aku suka. Dandananku sangat sederhana namun aku suka. Sedangkan yang lainnya termasuk mama, semuanya dengan polesan bedak yang lumayan tebal, tapi pucat, sampai aku agak-agak kesulitan untuk mengenali mereka. “sebentar… aku coba ngeliat kalian satu persatu dulu, biar ntar aku bisa ngenalin kalian satu persatu” ujarku sambil tertawa namun serius. Tiba-tiba ketika acara dandan masih berlangsung, hujan deras turun dan aku harus naik perahu untuk pergi kesuatu tempat, mencari sesuatu (bekal perjalanan, kurang jelas apa itu), setelah itu kembali lagi ketempat mama dan yang lainnya, dan mereka masih disana. Lalu kami berangkat dengan kendaraan, ngga jelas ...