Langsung ke konten utama

Postingan

Berawal dari Pertanyaan "Kenapa sampai cerai? "

Sebagai seorang HRD, banyak orang yang sudah aku interview. Dalam proses itu, saya bertemu dengan banyak orang, dengan berbagai tipe dan karakter yang unik, berbagai latar belakang pekerjaan, usia dan minat. Satu hal menarik yang seringkali menusuk hati adalah status perkawinan. Banyak orang yang tinggal dijakarta yang usianya udah cukup untuk menikah, namun tetep single/belum menikah juga. Bukan hanya yang penghasilannya rendah, tapi juga yang penghasilannya cukup besar menurut ukuran karyawan. Ops, tunggu dulu. Bukan ini topic yang tadi kusebutkan menarik hatiku. Hal yang menarik hatiku adalah status single yang lain. Single karena cerai hidup. Aku merasa miris jika mendengar atau membaca perkawinan dengan status seperti ini. apalagi sebenarnya sudah ada anak, buah dari perkawinan mereka. pertanyaan yang muncul dalam hati adalah “knapa? knapa harus sampai cerai? tidak adakah  cara atau solusi lain sehingga perceraian tidak terjadi?” Tahun 2015 ini aku merasa lebih si...

Sebuah Sharing Rasa dan Persepsi

Sebuah Sharing. Ketika aku masih SD, aku sering bermain2 dengan kain. Kadang kain itu aku pake sebagai bentuk pakaian adat.  Kadang aku pakai sebagai lambang yang menunjukkan ciri khas agama tertentu, seperti pakaian biarawati Katolik atau jilbab orang Muslim atau pakaian seperti yang biasa dipakai oleh orang Hindu. Kadang aku memadukan semuanya. Semua itu aku lakukan karna aku merasakan keindahan, rasa kagum dan rasa damai ketika melihat perbedaan itu bisa hidup berdampingan di bumi Indonesia.  Gereja KAtedral Jakarta & Mesjid Istiqlal Sewaktu ku duduk di bangku SMA, aku berkenalan dengan seorang temen, satu-satunya Muslim di sekolahku. Namanya TitianAsmar. Asalnya dari Padang. Saat kami hendak berpisah, kenang-kenangan yang kami minta dari adalah lambang agama masing2.  Jadi dia memberiku liontin kalung dengan tulisan arab yg artinya Allah. Aku memberinya lambang salib (liontin Salib Yesus). Satu2nya liontin terbaik yang aku punya waktu itu. Kuberi...

Bolehkah aku istirahat sejenak?

Tuhan… aku lelah. Bolehkah aku istirahat sejenak?

Aku Merasa Kesepian. Hari ke-205

Hari ini 23 Juli 2014. Ada apa yah? Mengapa aku merasa sangat merindukan Reni? Apakah karna situasi batinku   yang berantakan dan kesepian? Bisa jadi. Hm… ya. Iya ternyata bener. Aku kangen padanya. Hari ini, kangenku padanya memuncak. Rasanya ingin menyepi. Ingin sendiri dan ingin bertemu dengannya. Ingin menangis dan tertawa bersama dengannya, seperti dulu. Meski kadang kami bertengkar namun sharing dengannya membuatku merasa nyaman. Sejauh perjalanan dengannya ia selalu ada untukku dan aku juga selalu ada bersamanya. Menangis bersama, atau tertawa bersama untuk menghibur diri, meski tanpa alasan apapun. Jika saja mungkin, bahkan jika dalam mimpipun bertemu dengannya,   rasanya aku akan sangat senang.

Geliat di Hari ke-198

"Hi Neng... gimana kondisi kamu saat ini?. kondisi kamu stabil?" Pertanyaan yang sering diajukan beberapa temen deket di kantor. Pertanyaa itu juga terungkap sore ini. Diajukan oleh pak Karman disela tawa ria ketika kami ngoceh tentang aksi heboh dan keren bersama temen2 kantor. Sebenarnya kalo aku lihat akhir2 ini, sudah kurang lebih sebulan ini, kondisi kesehatanku menurun. Geliat kehidupan dibagian sini terasa ngga enak dan semakin menjadi. Awalnya aku merasakan geliatnya yang membuat tak nyaman itu hanya siang aja, tetapi sekitar 3 mingguan terakhir tidurku tak bisa nyenyak. Setiap pagi aku bangun dengan rasa tak enak. Ada sesuatu yang terasa berat dan hidup disini dan geliat itu mencemaskan hati. Meski demikian, aku menjalani hati hariku seperti biasanya. Ngga ada yang berubah, jika orang melihatnya dari segi fisik atau sekilas saja. Tapi sebenarnya, kondisi tubuhku ngga sebaik yang terlihat. Ada geliat kehidupan yang menggerogoti di'sini' di bagian tubuh yan...

Geliat hidup di Hari ke-191

Sore ini, aku pulang dari kantor tepat pukul 18:00 WIB. Tak seperti biasanya warung mpok Saroh tutup. Suasana lengang dan sepi. Warga tetangga sebelah mungkin lagi dines malam dan tetangga-tetangga lainnya ntah kemana. Yang ada hanya suasana sore yang sepi. Lampu tangga dan lorong lantai 2 masih padam, hanya ada bias cahaya lampu gedung serta lampu jalan raya dikejauhan yang membuat suasana sedikit terang. Setelah lampu tangga dan lorong kunyalakan, kubuka pintu dan kunyalakan semua lampu kamar dan kamar mandi. Tak lama berselang, terdengar suara motor datang dan berhenti di depan warung mpok. Terdengar juga pintu troli warungnya dibuka dan mendadak suasana menjadi ramai.  Suasana ini membuatku tersadar dari ketidak sadaranku. Selama ini aku menganggap bahwa mpok Saroh, suara tawa dan kelakar tetangga yang ramai, kuanggap hal yang biasa saja. Namun setelah merasakan suasana sepi mencekam sore ini, barulah aku sadar betapa mestinya aku bersyukur pada Allah, ada orang Betawi...