30 November 2013, kuawali sebuah perjalanan
baru. Ada rasa bahagia, karena kumerasa seperti burung yang akhirnya terbang
mengangkasa, lepas dari sangkar emas dengan ikatan belenggu yang mencekik leher.
Ada sebuah harapan yang kian bersemi mekar dalam jiwa. Sejujurnya kusadari,
bahwa semua yang ada dihadapanku saat ini sebenarnya tak seperti yang kuharapkan,
namun kucoba membuka hati pada realitas yang ada didepan mata. Hidup itu memang
tak harus sesuai dengan apa yang kita harapkan. Setidaknya demikian pengalaman
mengajariku. Kadang idealism itu penting, sebagai alasan dan patokan untuk
berjuang. Namun ada kalanya kita harus membuat evaluasi, merelakan tuk melepas
idealism, membuka hati dan mata jiwa untuk anugrah (grace) lain yang Gusti
Allah sediakan. Mungkin itu yang dikehendaki oleh Sang Gusti Pangeran. Yang
perlu kita lakukan hanya memohon bimbingan Roh-Nya “ajarlah hatiku Ya Gusti,
tuk memahami jalan-jalan-Mu, agar kudapat berjalan, dijalan yang benar. Amen”
Thn 2015 Waktu itu gw sedang kuliah semester akhir, pergi ke Bali, dan bertemu sahabat. disana kusampaikan segala penat dan pergumulan batin.. termasuk pertanyaan yang bercokol di pikiranku "QUO VADIS DOMINO?" Tak sengaja, ketika bertemu sahabat, bekenalan dengan sahabat baru, sesaat. Melalui kartunya (TAROT), mulai dibaca-nya jalan panjang yang akan kulalui. namun suaranya sayup, tak terdengar jelas di ingatanku, meski terdengar jelas di telingaku. Ketika jalan yang diramalkannya itu kulalui, saat itu pula terhenyak dengan jelasnya suara-nya yg waktu itu menghilang di antara deburan ombak. "Semua baik, kecuali 2 titik yang akan sangat terjal dalam perjalananmu" menyadari hal ini, pertanyaan baru muncul lagi "INIKAH YG NAMANYA TAKDIR?" mengapa bisa persis seperti yang diramalkan? apakah Usaha dan Doa tak ada pengaruhnya? Semoga aku dikarunia-i hati dan pikiran yang hening dan bening agar dapat memahami maksud-Nya yang sering kali menjadi...
Komentar
Posting Komentar