30 November 2013, kuawali sebuah perjalanan
baru. Ada rasa bahagia, karena kumerasa seperti burung yang akhirnya terbang
mengangkasa, lepas dari sangkar emas dengan ikatan belenggu yang mencekik leher.
Ada sebuah harapan yang kian bersemi mekar dalam jiwa. Sejujurnya kusadari,
bahwa semua yang ada dihadapanku saat ini sebenarnya tak seperti yang kuharapkan,
namun kucoba membuka hati pada realitas yang ada didepan mata. Hidup itu memang
tak harus sesuai dengan apa yang kita harapkan. Setidaknya demikian pengalaman
mengajariku. Kadang idealism itu penting, sebagai alasan dan patokan untuk
berjuang. Namun ada kalanya kita harus membuat evaluasi, merelakan tuk melepas
idealism, membuka hati dan mata jiwa untuk anugrah (grace) lain yang Gusti
Allah sediakan. Mungkin itu yang dikehendaki oleh Sang Gusti Pangeran. Yang
perlu kita lakukan hanya memohon bimbingan Roh-Nya “ajarlah hatiku Ya Gusti,
tuk memahami jalan-jalan-Mu, agar kudapat berjalan, dijalan yang benar. Amen”
7 September 1980 -7 September 2020 Tuhanku, Pandanglah aku. kemaren adalah hari ulang tahunku yang kesekian, dan seperti biasa saat merayakan HUT-ku, rasa yang muncul itu kenapa yah warnanya mesti sama. Rasa gundah, gelisah dan hampa. seperti pengulangan rasa yang sudah terjadwal. seperti biasa di hari Ultah, ada saja yang mengucapkan salam dan doa untukku. tahun ini ucapan salam itu datang dari salah seorang rekan susterku dulu. senang banget rasanya. seakan memori kehangatan yang pernah hadir dari kebersamaan saat itu mencuat kepermukaan. Tapi itu hanya sejenak, karna kenangan yang lain juga tak mau kalah, hadir secara nyata dalam hatiku. Kala itu, setelah membuat pertimbangan kuputuskan untuk meninggalkan cara hidup sebagai selibater. Maksud itu kuutarakan kepada pimpinan dan akhirnya dikabulkan, karna masing-masing punya kebebasan untuk memilih cara hidupnya. meski demikian, saya yang adalah bagian dari tubuh organisasi juga adalah saudara bagi para susterku. Sebagai saudara tentun...
Komentar
Posting Komentar