Langsung ke konten utama

Seni Hidup

         Kemarin sore, ada sharing. soal menegur dan ditegur. untuk sebagian orang, ini merupakan hal mudah namun untuk sebagian orang lain lagi hal ini sulit. ada orang yang nggak bisa diem kalo ngeliat orang lain keliru. langsung ngomong ke orangnya atau hanya menggerutu. ada orang yang kalo ngeliat orang lain berbuat sesuatu yg keliru, mendem dihati atau nggak ambil pusing alias cuek bebek, lalu kalo lain waktu terjadi lagi, jadinya gemes sambil nggerutu... "napa sih orang nih nggak berubah-berubah".
dari pengalaman aku belajar bahwa teguran akan mebuat orang berubah jika:
  1. disampaikan pada orang yang tepat, dalam hal ini orang bersangkutan, bukan orang lain. karena mungkin dia tidak tahu kalo itu "keliru". jika disampaikan pada/melalui orang lain dalam bentuk ngerasani atau ngomel, itu nggak akan merubah apa-apa, kecuali orang yang menerima rasanan dan omelan itu juga menyampaikannya pada orang berasangkutan (jalan panjang). jika disampaikan pada orang bersangkutan akan memungkinkan dialog dan klarifikasi yang jelas.
  2. disampaikan pada Si-Kon yang tepat. kalo seandainya orang bersangkutan nggak terimapun kemungkinan untuk berubah lebih besar karena manusia punya daya refleksi, cepat atau lambat.
  3. dan dengan cara yang tepat.
         Mari sejenak kita renungkan "apakah tiga hal ini memang terjadi pada anda?" jika iya mari belajar berbuat yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN INI-KAH???

Thn 2015 Waktu itu gw sedang kuliah semester akhir, pergi ke Bali, dan bertemu sahabat. disana kusampaikan segala penat dan pergumulan batin.. termasuk pertanyaan yang bercokol di pikiranku "QUO VADIS DOMINO?" Tak sengaja, ketika bertemu sahabat, bekenalan dengan sahabat baru, sesaat. Melalui kartunya (TAROT), mulai dibaca-nya jalan panjang yang akan kulalui. namun suaranya sayup, tak terdengar jelas di ingatanku, meski terdengar jelas di telingaku. Ketika jalan yang diramalkannya itu kulalui, saat itu pula terhenyak dengan jelasnya suara-nya yg waktu itu menghilang di antara deburan ombak. "Semua baik, kecuali 2 titik yang akan sangat terjal dalam perjalananmu" menyadari hal ini, pertanyaan baru muncul lagi "INIKAH YG NAMANYA TAKDIR?" mengapa bisa persis seperti yang diramalkan? apakah Usaha dan Doa tak ada pengaruhnya? Semoga aku dikarunia-i hati dan pikiran yang hening dan bening agar dapat memahami maksud-Nya yang sering kali menjadi...

God. Help me Please

Tuhan Mendengarkan doa yang lahir dari hati yg jujur Hari ini...... aku merasa sangat Jenuh. jenuh untuk apapun. rasanya banyak hal yang sia-sia dalam hidupku. perjuanganku untuk menjadi lebih baik rasanya tak pernah ada ujungnya. dan tak ada hasil yang bisa membuatku tersenyum. capek. aku capek dalam proses pencarianku capek mengupas dan mencoba mencari apa kehendak-Mu Bosan. aku bosan mendengar celetukan yang sama. seakan tak ada ayng berubah dalam dunia ini seakan tak ada yang menjadi lebih baik, seakan upayaku kuabadikan diatas angin. give up. hm.... ingin aku mengungkapkan itu hanya saja my my conscience , my angel  tak sepaham denganku. "No. that's is not the end. You can. yes, you can. try again, yet not all of them failed . instead , you actually get a lot of blessings ,   it's just that , now you hardly see any of it. because you are struggling with the ' futility ' " tapi aku capek mendengar kata itu. aku capek...

Menolehlah Padaku, Walau Hanya Sejenak

7 September 1980 -7 September 2020 Tuhanku, Pandanglah aku. kemaren adalah hari ulang tahunku yang kesekian, dan seperti biasa saat merayakan HUT-ku, rasa yang muncul itu kenapa yah warnanya mesti sama. Rasa gundah, gelisah dan hampa. seperti pengulangan rasa yang sudah terjadwal. seperti biasa di hari Ultah, ada saja yang mengucapkan salam dan doa untukku. tahun ini ucapan salam itu datang dari salah seorang rekan susterku dulu. senang banget rasanya. seakan memori kehangatan yang pernah hadir dari kebersamaan saat itu mencuat kepermukaan. Tapi itu hanya sejenak, karna kenangan yang lain juga tak mau kalah, hadir secara nyata dalam hatiku. Kala itu, setelah membuat pertimbangan kuputuskan untuk meninggalkan cara hidup sebagai selibater. Maksud itu kuutarakan kepada pimpinan dan akhirnya dikabulkan, karna masing-masing punya kebebasan untuk memilih cara hidupnya. meski demikian, saya yang adalah bagian dari tubuh organisasi juga adalah saudara bagi para susterku. Sebagai saudara tentun...